Kamis, 22 Maret 2012

EDELWEISS AND SEPTEMBER chapter three

 
#3. Kamu manis kataku—Kamu memang manis kayak serabi
“Udah Mbak, jangan nangis lagi. Saya paling tidak bisa melihat perempuan nangis. Rasanya gimana gitu.”
Edel menyeka matanya dengan saputangan yang aku berikan. Dia memandang jauh ke depan. Bodoh, seharusnya aku tidak di sini melihat perempuan ini menangis tapi di kamar kosku mengerjakan tugas bersama Idi.
Aku sudah mengaku padanya kalau aku bukan tukang ojek. Anehnya dia tidak marah malah tidak percaya kalau aku ini bukan tukang ojek. Gila! Masak wajahku kelihatan kayak tukang ojek sungguhan? Aku juga sudah menjelaskan siapa diriku dan kenapa aku berbohong. Dengan senang hati dia memakluminya.
Sekarang aku yang merasa aneh. Kenapa ya perempuan baik selalu dan akan tercampakkan. Dan orang yang menyampakkannya itu adalah orang terbodoh di dunia. Termasuk aku. Aku adalah laki-laki yang bodoh.
Aku kaget ketika dia menyodorkan tangannya. Beberapa detik baru aku ngeh kalau dia mau berkenalan.
“Edelweiss,” katanya.
Deg-seerr. Jantungku nauk turun berdebarnya. Kok namanya Edelweiss? Sama kayak nama kok-kosanku. Eh, maksudku bukan itu. Namanya sama seperti mantanku.

Kamis, 08 Maret 2012

EDELWEISS AND SEPTEMBER chapter two

 
#2. Dag dig dug—Suara genderang atau …

Berkat perkenalan yang sangat memalukan, Bi Aini tidak pernah absen ke kosku. Baik membawakanku barang dagangannya –nasi bungkus dong tentunya– atau barang-barang pesananku: beras, sayur atau lauk. Karena sebenarnya aku lebih suka masak sendiri daripada beli. Tapi, setelah mengenal bidadari yang baik hati seperti bi Aini, kadang aku lebih memilih membeli nasi bungkusnya. Soalnya masakannya mirip-mirip masakan mamaku
***
“Kak Ember nggak kuliah?” Jumaidi, teman satu kos dan satu kelasku yang paling rajin.
“Kuliah dong, Dek.” Aku melihat jam tanganku yang sudah usang –saking tuanya jarum detiknya sudah hilang entah kemana dan aku tidak tau bagaimana proses hilangnya– . Ah, masih ada limabelas menit lagi. Dasar Jumaidi, rajin bener. Kadang-kadang malah tigapuluh menit sebelum jam masuk dia sudah ada di kampus. Tapi, aku suka berteman dengan orang pintar dan rajin seperti dia.
“Mau samaan?” tanyanya lagi. sekarang dia sudah ada di atas sepeda motornya.
Tanpa berkata apa-apa, aku masuk ke dalam kamar dan mengambil tasku kemudian memakai sepatu. Setelah mengunci kamar, aku naik di belakangnya.
Ya, aku masih kuliah. Pasti kedengarannya lucu. Di usia ke-25 tahun aku masih semester satu. Hanya ada satu alasan untuk hal ini dan aku tidak berminat untuk membahasnya. Kalian bertanya, aku akan menjawab no comment. Yang jelas aku tidak masalah menjalani kuliahku semester satu diusiaku yang tua ini.
***

EDELWEISS AND SEPTEMBER chapter one

#1. Perkenalan—Pagi pertamaku di tempat yang baru
Lima belas Desember, akhirnya aku pindah lagi. Kali ini ke tempat yang jauh dan tak ada yang mengenalku. Aku yakin pasti bisa menjalankan hidup yang baru ini. Tapi, aku tidak yakin apakah aku akan diterima lebih baik di sini daripada di tempatku sebelumnya. Ya Tuhan, tetaplah di sampingku.
Pagi ini aku meninggalkan tempat tidurku lebih awal. Sambil menyeruput the hangat, aku duduk di kursi rotan yang ada di depan kamar kosku. Aku menghirup udara pagi yang segar untuk pertama kalinya di tempatku yang baru ini. Memerhatikan keramaian pagi yang ceria. Para pedagang, ibu-ibu yang menyapu halaman depan rumahnya, serta orang-orang yang jogging. Wah, ini membuatku semangat. Aku beranjak dari dudukku kemudian meloncat-loncat kecil.
Sayangnya aku masih memakai baju –tidur– t-shirt bermotif spongebobku. Kalau tidak, aku pasti sudah mengekor orang-orang yang jogging tadi. Aku memang akan sangat bersemangat jika melihat orang-orang yang bersemangat. Itu seperti motivasi untukku.
Aduh, tapi perutku sepertinya tidak bersahabat. Lapeeerrrrr. Perutku bunyi ala perut keroncongan gitu deh yang semua orang pasti tau bunyinya bagaimana. Teh hangat tadi rupanya tidak mampu menyogok perut lapar. Aku kembali masuk ke kamarku dan melihat persediaan makanan. Alamak, kosong melompong. Tidak ada sebutir beras atapun sepotong tempe yang selalu menjadi menu kesukaanku.

Minggu, 13 November 2011

CERPEN: FARHAN

FARHAN*
Wiladah El-Fairy Liandra

Pria itu akhirnya sadar kalau aku mengikutinya dari tadi. Dia berbalik kemudian bertanya padaku.
“Kamu ngikutin aku ya?”
Aku nyengir sambil melihat buku yang ada di tangannya.
“Apa ada yang salah?” tanyanya lagi.
“Buku itu,” jawabku sambil menunjuk buku yang ada di tangannya.
“Buku ini?”
Aku menggangguk.
“Boleh nggak aku yang pinjem bukunya? Soalnya, buku itu penting banget untuk menyelesaikan tugasku?” tanyaku.
“Oh, boleh banget!” jawabnya kemudian menyerahkan buku itu padaku.
“Terimakasih.” kataku sambil sedikit membungkuk saking senengnya. Kemudian akupun pergi dari hadapannya tanpa berkata apapun lagi. Tapi, di depan pintu perpustakaan pria itu menghampiriku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Sebenarnya aku juga sangat membutuhkan buku itu. Mmm… buat tugas juga.”
Aku mendesah. Duh, apaan sih ni orang. Kan tadi bukunya dengan senang hati dia serahkan ke aku. Kok jadinya begini?
“Trus gimana dong?”
“Bagaimana kalau kita mengerjakan tugasnya samaan? Ini aku kasi nomer HP aku. Nanti biar kamu saja yang menentukan tempatnya dimana.” Dia menawarkan sebuah usulan.
Aku mengerutkan kening. Sepertinya dia memang benar-benar membutuhkan buku ini. Oke, tak ada salahnya belajar bersama. Akhirnya setelah bertukar nomer HP, pria itu meninggalkanku. Namanya bagus, Farhan.
****

Sabtu, 12 November 2011

GEBYAR 100 PUISI GELORA API PAHLAWAN--MEREKA PAHLAWAN ITU



MEREKA PAHLAWAN ITU
Oleh: Wiladah El-Fairy Liandra

Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati*
Airmatanya berlinang mas intanmu terkenang

Mengapa menangis pertiwi?
Apakah karena semua pahlawan telah gugur?
Mengapa kau bersusah hati pertiwi?
Apakah karena kau takut para pahlawan itu tidak akan bereinkarnasi?

Tenanglah!
Mereka telah mewariskan semangat juang yang tinggi
mereka meninggalkan nilai-nilai moral dan budi pekerti yang mulia
mereka akan selalu hidup walaupun tidak bereinkarnasi

Ketahuilah Pertiwi,
Tugas mereka telah selesai
Bung Karno telah lama memproklamirkan kemerdekaan
Ibu Kartini sudah berhasil menciptakan kesetaraan
Pun pahlawan yang lainnya.
Tugas mereka sudah selesai.

Nah, Pertiwi
Kini  sudah tiada lagi perang dengan senapan juga bambu runcing
Namun pertempuran masih tetap berlangsung
Pada medan yang berbeda
Dengan cara yang berbeda

Rabu, 02 November 2011

Bukuku: Cerpen Ber-soundtrack 100% Cinta

Cover buku Cerpen bersoundtrack 100% Cinta







ISBN: 978-602-225-120-0
Terbit: September 2011
Tebal: 264 halaman
Harga: Rp. 51.700,00
 
Deskripsi: 
“Fenomena yang dikosmetikkan lagu domestik maupun mancanegara ini semakin memberi ruh dan corak warna tersendiri. Dalam cerita-cerita berkarakter yang ada dalam antologi “Bersoundtrack 100% Cinta. Napas karya berpaksikan cinta belia, yang kadang menghadirkan kisah balada, kepekaan muda-mudi dalam bersosialisasi, romantisme dan kerinduan dan sesekali dibumbui ironisnya hidup. Tak selamanya indah harapan bisa diraih dalam realitanya.
 
Kadang kita bersikap romantis gak cuma di film saja, tapi setiap kejadian punya soundtrack tersendiri. Jadi hidup tak ubahnya sebuah episode yang penuh dengan kisah dramatis. Misal lagu Mahadewi karya grup band Padi, yang selalu dijadikan ritual untuk memproklamirkan cinta. Cinta yang penuh perjuangan tapi berakhir sedih seperti lagu Selena, U2 With & Without U, Daniel Bedingfild, Indra Lesmana Feat Nania dalam Sedalam-dalamnya Cinta, Boa dalam Every Heart dan The Corrs yang berjudul “Make You Mine.”
 
Jadi, hidup tak ubahnya sebuah episode yang penuh dengan kisah dramatis. Buku ini akan menjadi pilihan segar untuk dibaca, saat kejenuhan mulai meracuni jalan darah kita. Semoga bisa merenjiskan semangat bagi pembaca dan menjadi resolusi yang manis di tengah rutinitas. Dialah pelangi bagi kisi-kisi indah dunia kecil kita.”
 
~ Hylla Shane Gerhana - Analyst Unicef, Cerpenis, dan Pencinta Sastra 
________________________________

Buku ketigaku. berkisah tentang cinta. mau pesan? langsung ke Leutika Prio ya! 

Bukuku: SEHANGAT DEKAPAN CINTA RAMADAN

Cover buku sehangat dekapan cinta ramadhan

ISBN: 978-602-225-089-0
Terbit: September 2011
Tebal: 194 halaman
Harga: Rp. 41.400,00
 
Deskripsi:
Kisah-kisah inpiratif dalam buku ini mampu menggetarkan hati pembaca untuk meresapi dan menghayati makna Ramadhan dengan sepenuh cinta kepada-Nya. Kisah sejati ini adalah pengalaman langsung masing-masing penulis. Dengan teknik berkisah akan lebih mudah diresapi dan diterima oleh pembaca. Kisah-kisah nyata ini diramu dengan gaya bahasa yang sederhana, menyentuh dan mudah dipahami. Buku ini hadir sebuah bentuk kecintaan datangnya bulan mulia ini. Semoga sepercik kisah sejati yang kami rangkum dalam buku ini menambah suana syahdu nan manis selama menjalani hari-hari indah di bulan suci. Kerinduan dan cinta ini tumpah ruah ketika tubuh ini dibalut hari-hari penuh keindahan dan kedamaian dalam suci bakti pengabdian kepada-Nya. Semoga buku ini menjadi sahabat terbaik bagi pembaca sekalian yang budiman dan hidangan jiwa yang mengenyangkan dengan manisnya iman dan takwa
______________________________

Ini buku keduaku. buku ini juga hasil keroyokan [belum punya buku solo :'( ]. Kalau ada yang mau pesan silakan hubungi Leutika Prio

Bukuku: SENARAI TARIAN IMAJI

cover depan buku senarai tarian imaji
ISBN: 978-602-225-057-9
Terbit: Juli 2011
Tebal: 245 halaman
Harga: Rp. 48.900,00
 
Deskripsi:
Semua berdinding, kecuali imaji. Sekali ia menari maka sekali itu juga ia terkenang selamanya. Tak ada sekat tak ada rekat. Menikmati liukan imaji sama nikmatnya dengan memandangi dalam-dalam karya michelangelo atau Leonardo da vinci. Serba indah dan penuh makna. Melihat batas imaji jelas tidak mungkin, tapi menikmati tariannya atau jika berkenan, turut menari bersama justru akan membuatnya terasa sempurna. Biarkan pesona senarai tarian imaji menari dalam kepalamu. Tak berdinding. Tak berbatas. 
___________________________
Ini adalah buku antologi pertamaku. Alhamdulillah keroyokan bersama dengan beberapa penulis profesional dan pemula yang ada di sekolah menulis online Writing Revolution angkatan 04.
Buku ini mengangkat du tema. yang pertama tentang asyiknya menulis dan yang kedua tentang imajinasi atau fantasi fiesta. ditulis dengan bahasa yang ringan yang cocok untuk segala usia [hehe, promosinya]
 
NB:: Kalau ada yang mau pesan silakan pesan langsung ke Leutika Prio.

Kamis, 29 September 2011

My All Is In You [About Choi Si Won (Siwon Suju)]

Choi Si Won
My All Is In You
(Wiladah El-Fairy Liandra) 

Dia tidak akan pernah tau bahwa aku mencintainya jauh sebelum dia menjadi tampan. Dia juga tidak akan pernah tau bahwa aku selalu memikirkannya jauh sebelum dia menyenandungkan lagu-lagu itu. Aku juga selalu merindukannya jauh sebelum dia pergi meninggalkanku.

“Zee, aku akan pergi.” Siwon berkata dengan mata yang berbinar. “Aku diterima di sekolah musik itu.” Dia memelukku dengan erat. Pipinya yang penuh jerawat menyentuh pipiku yang mulai memanas.

“Syukurlah.” Aku membalas pelukkannya. Menghirup aroma tubuhnya yang sangat aku sukai. Perlahan airmataku mengalir. Siwon, hal yang paling aku takutkan di dunia ini adalah jika kau pergi dari sisiku. Meninggalkan desa kelahiran kita kemudian melupakannya. Aku memeluknya lebih erat lagi sampai aku tak bisa merasakan detak jantungku sendiri.

Sore itu dia benar-benar pergi. Aku dan neneknya menemaninya menunggu bis yang akan membawanya ke kota. Siwon tidak memiliki sahabat selain aku dan tidak memiliki keluarga selain neneknya.

Setelah memeluk neneknya, dia mendekatiku.

“Apakah kau percaya jika aku yang  jelek ini akan menjadi bintang?”

Aku melihat wajahnya. Penuh jerawat dan minyak. Rambutnya berantakan serta matanya yang sipit.

“Aku percaya. Kau tidak hanya akan menjadi bintang, tapi kau akan bersinar lebih terang dari bintang.”

Dia mengelus kepalaku. “Aku membawa rekamannya.” Dia menunjukkan beberapa keping kaset padaku. “Natal nanti mungkin aku tidak akan pulang. Tapi kau akan tetap bernyanyi untukku.” Dia tersenyum kemudian meninggalkanku.

Bis dengan cat putih itu pun melaju setelah Siwon duduk di salah satu kursinya. Dia melihat kami dari kaca bis. Melambai. Tapi aku tak bisa melambaikan tanganku.

Siwon, apakah kau ingat dulu kau memiliki impian yang ingin kau wujudkan berdua saja denganku? Aku ingin sekali tau impian apa itu?kau bilang akan mengatakannya nanti setelah kita lulus junior high school. Tapi setelah lulus, kau belum juga mau mengatakannya. Sampai kau pergi meninggalkanku. Jadi, kapan kau akan memberitahuku? Atau mungkin itu hanyalah impian belaka?

***

Selasa, 06 September 2011

Catatan hari-hari berat (bagian I)

Beberapa hari dalam minggu ini adalah hari-hari terberat dalam hidupku (nggak berat-berat juga sih. Cuma mau mendramatisir ajjah). Salah satu alasannya adalah 3 penyakit yang menyerangku dalam waktu yang anehnya bersamaan. Pertama sakit pinggang yang luar biasa hebatnya. Akibat dari kebanyakan duduk mantengin lappy putihku yang sangat cuakep (hehe). Pinggangku menjadi sasaran nyeri yang membuatku memutuskan untuk menonaktifkan akun Facebookku sementara selama seminggu full. Itung-itung latihan juga karena rencananya aku akan rutin menonaktifkan FB-ku selama seminggu dalam 1 bulan.ini dimaksudkan agar aku tidak menjadi Facebookholic. Karena sakit pinggang ini buah dari Facebookan terus.